homeschooling?

Posted: Februari 16, 2012 in Uncategorized

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan dan kesemapatannya kepada Kita semua, terutama pada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun guna memberikan informasi tambahan mengenai Home Schooling dan Sekolah Alam, dan juga untuk memenuhi tugas mata kuliah pengantar pendidikan.

Berikut penulis persembahkan sebuah makalah yang berjudul “ Home Schooling dan Sekolah Alam ( Analisis Terhadap Model Penyelenggaraan Pendidikan di Masyarakat ). Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi penulis sendiri. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Karena Kami sendiri masih dalam tahap belajar, kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Dengan demikian, tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada para pembaca. Semoga Allah memberkahi makalah ini sehingga benar – benar bermanfaat.

 

Indramayu, Desember 2011

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

 

Banyaknya orangtua yang tidak puas dengan hasil sekolah formal mendorong orangtua mendidik anaknya di rumahdan di luar ruangan. Kerapkali sekolah formal berorientasi pada nilai rapor (kepentingan sekolah), bukannya mengedepankan keterampilan hidup dan bersosial (nilai-nilai iman dan moral). Di sekolah, banyak murid mengejar nilai rapor dengan mencontek atau membeli ijazah palsu. Selain itu, perhatian secara personal pada anak, kurang diperhatikan. Ditambah lagi, identitas anak distigmatisasi dan ditentukan oleh teman-temannya yang lebih pintar, lebih unggul atau lebih “cerdas”. Keadaan demikian menambah suasana sekolah menjadi tidak menyenangkan.

Ketidakpuasan tersebut semakin memicu orangtua memilih mendidik anak-anaknya di rumah, dengan resiko menyediakan banyak waktu dan tenaga. Homeschooling dan sekolah alam menjadi tempat harapan orang tua untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak, mengembangkan nilai-nilai iman/ agama dan moral serta mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan.

2. Rumusan Masalah

1.Apa yang di maksud dengan homeschooling dan sekolah alam?

2.Bagaimana homeschooling dalam pendidikan nasional?

3.Apa factor-faktor pendukung homeschooling?

4.Apa kelebihan dan kekurangan homeschooling?

5.Bagaimana kurikulum sekolah alam?

6.Bagaimana system pembelajaran sekolah alam?

7.Apa saja kegiatan penunjang pembelajaran sekolah alam?

3. Tujuan

1.Agar mahasiswa mengetahui apa itu homeschooling dan sekolah alam.

2.Agar mahasiswa bias mengetahui perbedaan homeschooling dan sekolah alam dengan sekolah umum.

3.Agar mahasiswa memahami lebih dalam tentang homeschooling.

BAB II

PEMBAHASAN

HOMESCHOOLING DAN SEKOLAH ALAM

( Analisis Terhadap Model Penyelenggaraan di Masyarakat )

1. Homeschooling

A. Pengertian homeschooling

Istilah Homeschooling sendiri berasal dari bahasa Inggris berarti sekolah rumah. Homeschooling berakar dan bertumbuh di Amerika Serikat. Homeschooling dikenal juga dengan sebutan home education, home based learning atau sekolah mandiri. Pengertian umum homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya. Memilih untuk bertanggungjawab berarti orangtua terlibat langsung menentukan proses penyelenggaraan pendidikan, penentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai yang hendak dikembangkan, kecerdasan dan keterampilan, kurikulum dan materi, serta metode dan praktek belajar (bdk. Sumardiono, 2007:4).

B. Dalam Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional menyebut sekolah-rumah dalam pengertian pendidikan homeschooling. Jalur sekolah-rumah ini dikategorikan sebagai jalur pendidikan informal yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (pasal 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional – Sisidiknas No. 20/2003). Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Meskipun pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses pelayanan pendidikan informal, namun hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal (sekolah umum) dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan (pasal 27 ayat 2).

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Juga dijelaskan sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (pasal 1).

Berdasarkan definisi pendidikan dan sistem pendidikan nasional tersebut, sekolah rumah menjadi bagian dari usaha pencapaian fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

C. Perkembangan HomeSchooling di Indonesia

Perkembangan homeschooling di Indonesia belum diketahui secara persis karena belum ada penelitian khusus tetang akar perkembangannya. Istilah homeschooling merupakan khazanah relatif baru di Indonesia. Namun jika dilihat dari konsep homeschooling sebagai pembelajaran yang tidak berlangsung di sekolah formal alias otodidak, maka sekolah rumah sudah tidak merupakan hal baru. Banyak tokoh-tokoh sejarah Indonesia yang sudah mempraktekkan homeschooling seperti KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka (Makalah Dr. Seto Mulyadi, 18 Juni 2006).

Dalam pengertian homeschooling ala Amerika Serikat, sekolah rumah di Indonesia sudah sejak tahun 1990-an. Misalnya Wanti, seorang ibu yang tidak puas dengan sistem pendidikan formal. Melihat risiko yang menurut Wanti sangat mahal harganya, dia banting setir. Tahun 1992 Wanti mengeluarkan semua anaknya dari sekolah dan memutuskan mengajar sendiri anak-anaknya di rumah. Ia mempersiapkan diri selama 2 tahun sebelum menyekolahkan anaknya di rumah. Semua kurikulum dan bahan ajar diimpor dari Amerika Serikat.Wanti sadar keputusannya mengandung konsekuensi berat. Dia harus mau capek belajar lagi, karena bersekolah di rumah berarti bukan anaknya saja yang belajar, tetapi justru orangtua yang harus banyak belajar.

Demikian juga Helen Ongko (44), salah seorang ibu yang mendidik anaknya dengan bersekolah di rumah, sampai harus ke Singapura dan Malaysia mengikuti seminar tentang hal ini. Dia ingin benar-benar mantap, baru mengambil keputusan. “Kebetulan waktu itu kondisi ekonomi sedang krisis sehingga kami banyak di rumah. Eh, ternyata enak ya belajar bersama di rumah,” kata Helen yang mulai mengajar anak di rumah tahun 2000 (Kompas, 13/3/2005).

Di Indonesia baru beberapa lembaga yang menyelenggarakan homeschoooling, seperti Morning Star Academy dan lembaga pemerintah berupa Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM).

Morning Star Academy, Lembaga pendidikan Kristen ini berdiri sejak tahun 2002 dengan tujuan selain memberikan edukasi yang bertaraf internasional, juga membentuk karakter siswanya.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan program pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan jalur informal. Badan penyelenggara PKBM sudah ada ratusan di Indonesia. Di Jakarta Selatan aja, ada sekitar 25 lembaga penyelenggara PKBM dengan jumlah siswa lebih kurang 100 orang. Setiap program PKBM terbagi atas Program Paket A (untuk setingkat SD), B (setingkat SMP), dan Paket C (setingkat SMA). PKBM sebenarnya menyelenggarakan proses pendidikan selama 3 hari di sekolah, selebihnya, tutor mendatangi rumah para murid. Para murid harus mengikuti ujian guna mendapatkan ijazah atau melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Perbedaan Ijazah dengan sekolah umum, PKBM langsung mengeluarkannya dari pusat.

 

D. Faktor-Faktor Pemicu dan Pendukung Homechooling

  • Kegagalan sekolah formal

Baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga di Indonesia maupun di mancanegara untuk menyelenggarakan homeschooling. Sekolah rumah ini dinilai dapat menghasilkan didikan bermutu.

  • Teori Inteligensi ganda

Salah satu teori pendidikan yang berpengaruh dalam perkembangan homeschooling adalah Teori Inteligensi Ganda (Multiple Intelligences) dalam buku Frames of Minds: The Theory of Multiple Intelligences (1983) yang digagas oleh Howard Gardner. Gardner menggagas teori inteligensi ganda. Pada awalnya, dia menemukan distingsi 7 jenis inteligensi (kecerdasan) manusia. Kemudian, pada tahun 1999, ia menambahkan 2 jenis inteligensi baru sehingga menjadi 9 jenis inteligensi manusia. Jenis-jenis inteligensi tersebut adalah:Inteligensi linguistik; Inteligensi matematis-logis; Inteligensi ruang-visual; Inteligensi kinestetik-badani; Inteligensi musikal; Inteligensi interpersonal; Inteligensi intrapersonal; Inteligensi ligkungan; dan Inteligensi eksistensial.

Teori Gardner ini memicu para orang tua untuk mengembangkan potensi-potensi inteligensi yang dimiliki anak. Kerapkali sekolah formal tidak mampu mengembangkan inteligensi anak, sebab sistem sekolah formal sering kali malahan memasung inteligensi anak.

(Buku acuan yang dapat digunakan mengenai teori inteligensi ganda ini dalam bahasa Indonesia ini, Teori Inteligensi Ganda, oleh Paul Suparno, Kanisius: 2003).

  • Sosok homeschooling terkenal

Banyaknya tokoh-tokoh penting dunia yang bisa berhasil dalam hidupnya tanpa menjalani sekolah formal juga memicu munculnya homeschooling. Sebut saja, Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh lainnya.

Benyamin Franklin misalnya, ia berhasil menjadi seorang negarawan, ilmuwan, penemu, pemimpin sipil dan pelayan publik bukan karena belajar di sekolah formal. Franklin hanya menjalani dua tahun mengikuti sekolah karena orang tua tak mampu membayar biaya pendidikan. Selebihnya, ia belajar tentang hidup dan berbagai hal dari waktu ke waktu di rumah dan tempat lainnya yang bisa ia jadikan sebagai tempat belajar.

  • Tersedianya aneka sarana

Dewasa ini, perkembangan homeschooling ikut dipicu oleh fasilitas yang berkembang di dunia nyata. Fasilitas itu antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audivisual).

E. Kelebihan dan Kekurangan Homeschooling

Dari perbedaan di atas, kita dapat menyebutkan kelebihan homeschooling, antara lain:

  1. Adaptable, artinya sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
  2. Mandiri artinya lebih memberikan peluang kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan di sekolah umum.
  3. Potensi yang maksimal, dapat memaksimalkan potensi anak, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan sekolah.
  4. Siap terjun pada dunia nyata. Output sekolah rumah lebih siap terjun pada dunia nyata karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.
  5. Terlindung dari pergaulan menyimpang. Ada kesesuaian pertumbuhan anak dengan dengan keluarga. Relatif terlindung dari hamparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, narkoba, konsumerisme, pornografi, mencontek dan sebagainya); Ekonomis, biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga.

Di sisi lain, homeschooling mempunyai kelemahan-kelemahan yang dapat disebutkan berikut ini:

a. Membutuhkan komitmen dan tanggung jawab tinggi dari orang tua; memiliki kompleksitas yang lebih tinggi karena orangtua harus bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan anak.

b. Keterampilan dan dinamika bersosialisasi dengan teman sebaya relatif rendah.

c. Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi dan kepemimpinan.

d. Proteksi berlebihan dari orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi dan masalah sosial yang kompleks yang tidak terprediksi.

2. Sekolah Alam

A. Pengertian Sekolah Alam

Sekolah alam adalah sebuah model pendidikan yang berusaha mengadaptasi apa yang telah dibuktikan oleh Rasulullah SAW pada masanya ke masa kini dan masa di mana generasi Rabbani kelak menjadi pemimpin di muka bumi. Sekolah Alam berusaha mengembangkan pendidikan bagi semua (seluruh ummat manusia) dan belajar dari semua (seluruh makhluk di alam semesta).Dalam konsep pendidikan Sekolah Alam Bogor, fungsi alam antara lain :

  • Alam sebagai ruang belajar
  • Alam sebagai media dan bahan aja
  • Alam sebagai objek pembelajaran

B. Kurikulum Sekolah Alam

Banyak pertanyaan orang tua tentang kurikulum sekolah alam yang belakangan ini sudah mulai ngetrend. Jika berbicara tentang sekolah tak terlepas dari kurikulum yang ada dan ditetapkan pemerintah, berbeda dengan sekolah konvensional. Menurut Yoga, sekolah alam memiliki kurikulum yang berbeda, jikapun menggunakan kurikulum pendidikan biasanya dilakukan penyesuaian saja, hal senada juga dilontarkan Hendra. Menurutnya sekolah alam yang dirintis oleh Dik Doank bahkan tidak menggunakan kurikulum, sebab sekolah alamnya mengajarkan anak untuk menggali potensi dirinya tanpa harus menjadi beban sang anak dengan sekolahnya.

Jika inti tujuan atau sasaran sesuai dengan kegiatan yang dilakukan, metode belajar aktif di alam ini akan banyak membantu siswa menyerap pelajaran atau proses pengajaran yang diberikan,”terang Ita. Dalam memberikan pendidikan bagi anak, orangtua biasanya akan memberikan yang terbaik buat putra-putrinya. Orang tua tak peduli dengan besarnya biaya pendidikan anak. Untuk sekolah alam biaya pendidikan jauh berbeda dengan sekolah konvensional pada umumnya. Untuk biaya pendidikan sekolah alam bagi anak perorangnya, orang tua harus merogoh kocek antara 300 ribu hingga 500 ribu rupiah. Namun, ada juga sekolah alam yang gratis seperti sekolah alam Kandank Jurank Doank, syaratnya siswa atau anak tidak boleh membuang sampah sembarangan dan mau mengisi formulir yang diberikan oleh pengelola.

C. Sistem Pembelajaran Sekolah Alam

Menurut Bapak Pepen Supendi, Kepala Sekolah Alam Jakarta, pembelajaran di Sekolah Alam tidak per bab mata pelajaran. Tapi dengan metode tematik dengan cara Spider Web. Yakni siswa mampu mengaitkan pelajaran dengan secara nyata, dan juga dapat mengaitkan hubungan antar pelajaran yang mereka terima. “Jadi si anak tidak merasa bosan,” jelas Pepen.

Di Sekolah Alam, tidak hanya siswa yang belajar, guru pun belajar dari murid. Orang tua juga belajar dari guru dan murid. Anak-anak tidak hanya belajar di kelas, tetapi mereka belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Selain belajar dari buku, anak-anak juga belajar dari alam sekelilingnya. Anak-anak bukan belajar untuk mengejar nilai, tetapi untuk bisa memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan metode spider web ini, mereka belajar tidak hanya dengan mendengar penjelasan guru, tetapi juga dengan melihat, menyentuh, merasakan, dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran. Di sini anak juga diarahkan untuk memahami potensi dasarnya sendiri. Setiap anak dihargai kelebihannya, dan dipahami kekurangannya. Dengan begitu, jika ada perbedaan pendapat antara guru dan murid bukanlah hal yang tabu.
“Setiap anak memiliki keunikan tersendiri, dan itu harus dihargai. Anak-anak jangan dibuat takut dengan sikap yang kaku,” ujar sang kepala sekolah.

Pepen menjelaskan bahwa, pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran ini bersifat integratif, komprehensif dan aplikatif, sekaligus juga memahami kemampuan dasar yang ingin ditumbuhkan kepada anak-anak. Sekolah Alam dituntut untuk memiliki kemampuan membangun jiwa keingintahuan, melakukan observasi, membuat hipotesa, serta kemampuan berfikir ilmiah para siswanya.

Kurikulum Sekolah Alam juga tetap bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional (Diknas), dan mengikuti kurikulum arahan Diknas. Namun, tetap dipilah-pilih, mana kurikulum yang sesuai dengan kurikulum Sekolah Alam. Sekolah ini juga sebenarnya sama dengan sekolah formal, terdapat rapor hasil belajar siswa, Evaluasi Hasil Bersama (EHB), dan ujian akhir. “Untuk ujian akhir, biasanya menumpang ke sekolah lain, karena sekolah alam ini tidak terdapat kursi dan meja, seperti sekolah formal lain. Jadi tidak bisa digunakan untuk tes ujian akhir,” ujar pria yang sudah 8 tahun mengabdi di sekolah alam ini.

Ruang Kelas Yang Natural dan Nyaman, serta Seragam Sekolah Yang Bebas
Begitu memasuki sekolah alam, jangan heran, karena Anda tidak akan menemukan bangunan permanen layaknya gedung sekolah pada umumnya. Sebagai gantinya, berbagai ruangan yang ada seperti ruang guru dan kepala sekolah hanya menempati rumah kayu yang dibangun berlantai dua. Tidak ada bangku atau meja di ruangan-ruangan tersebut.

Ruang kelasnya juga tak kalah natural, alih-alih belajar di ruang berdinding dan berkaca, para murid malah semakin menyatu dengan alam dalam saung kelas. “Sama dengan ruangan lain, di kelas juga tidak ada bangku dan meja. Semua serba lesehan, untuk keperluan menulis setiap anak memiliki meja lipat sendiri. Begitupun dengan ruang perpustakaannya, berbagai buku disusun dengan rapi di rak atau lemari kaca,” jelas Pepen.

Untuk seragam sekolah pun, siswa di beri kebebasan. Tidak ada seragam merah putih, atau batik dan lainnya. Disini seragam sekolah bebas tapi tetap sopan. Dan untuk sepatunya, anak-anak menggunakan sepatu boots. “Karena sekolah ini langsung berhubungan dengan alam, jadi anak-anak bermain dengan tanah, dan pasir. Bisa dibayangkan pasti akan kotor baju dan sepatunya. Maka disini di bebaskan,” jelas Pepen kembali.

D.Kegiatan Penunjang Pembelajaran Sekolah Alam

  • Outbound; adalah kegiatan yang bertujuan untuk pembentukan sikap kepemimpinan siswa (kepercayaan diri, kerja sama tim, dan lain-lain).
  • Berkebun dan Beternak; adalah kegiatan yang mengajarkan mencintai lingkungan. Kegiatan ini dijadikan sebagai media pembelajaran untuk materi pelajaran lain secara terpadu.
  • Market day; adalah kegiatan yang merupakan ajang untuk berjualan di sekolah. Setiap siswa akan terlibat mulai dari perencanaan, promosi hingga penjualan produk mereka.
    Outing; adalah kegiatan dengan mengunjungi tempat-tempat yang sesuai dengan tema pembelajaran siswa saat itu.
  • Muhadhoroh dan Audiensi; adalah kegiatan satu pertunjukkan dari setiap kelas seperti drama, ensamble, puisi dan melatih apresiasi siswa terhadap hasil karya temannya.
  • Ramadhan Camp dan I’tikaf; merupakan kegiatan yang bernuansa Ramadhan. Salah satu bentuk kegiatannya adalah buka puasa bersama dan menginap di sekolah. Bersama-sama mereka melakukan sholat tarawih, tilawah Qur’an, kajian Islam, qiyamul lail dan sahur.
  • OTFA (Out Tracking Fun Adventure); adalah kegiatan evaluasi akhir dari keseluruhan kegiatan outbound bagi siswa SD. OTFA bisanya dilakukan diluar sekolah selama dua hari di akhir tahun ajaran. Bentuk kegiatannya berupa camping, outbound, dan tracking.
  • Renang yang diikuti oleh seluruh siswa satu bulan sekali secara bergiliran tiap kelasnya.

 

 

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

 

 

 

 

 

2.Kritik dan Saran

DAFTAR PUSTAKA

REFERENSI:

Kompas Cyber Media, 29 Agustus 2005: “Home Schooling” Model Pendidikan Alternatif

Sarie Febriane/ Clara Wresti, Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku, Harian Kompas, 13 Maret 2005

Yorgi Gusman, Ikutan Home Schooling, 08 September 2006

Paul Suparno, Teori Inteligensi Ganda, Kanisius: Yogyakarta, 2003

Sumardiono, Homeschooling, Lompatan Cara Belajar, PT. Elex Media Komputindo: Jakarta, 2007

http://infolaris.blogspot.com/2009/09/sekolah-alam-memahami-kekurangan-dan.html “ Sekolah Alam “

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s